Merebut Kedaulatan Ekonomi Bulukumba dari Rantai Nilai yang Hilang

banner 120x600
banner 468x60

Pinisinews.com _Bulukumba adalah daerah yang dianugerahi kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Dari sektor pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan kelapa, budidaya rumput laut, hingga industri maritim Pinisi dan pariwisata, semuanya menjadi modal besar untuk membangun kesejahteraan masyarakat.

Namun di tengah potensi yang begitu besar, muncul satu pertanyaan penting yang perlu dijawab bersama: siapa yang sesungguhnya menguasai ekonomi Bulukumba?

banner 325x300

Menurut Syafruddin Mualla, Wakil Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan sekaligus Ketua Umum Forum Komunikasi Pengusaha Bulukumba (FKPB), persoalan utama bukan terletak pada kurangnya potensi, melainkan pada siapa yang menikmati nilai tambah dari potensi tersebut.

Data BPS menunjukkan perekonomian Bulukumba pada tahun 2024 tumbuh sekitar 4,60 persen dengan nilai PDRB mencapai Rp20,22 triliun. Di sisi lain, terdapat lebih dari 55 ribu UMKM yang menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi daerah. Angka ini menunjukkan fondasi ekonomi Bulukumba cukup kuat.

Meski demikian, sebagian besar komoditas unggulan daerah masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Akibatnya, nilai tambah yang seharusnya dinikmati masyarakat lokal justru lebih banyak berpindah ke daerah lain yang memiliki industri pengolahan, jaringan distribusi, teknologi, dan akses pasar yang lebih maju.

“Yang menguasai ekonomi bukan hanya yang memiliki sumber daya alam, tetapi mereka yang menguasai rantai nilai, mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, pemasaran hingga kepemilikan merek,” ujar Syafruddin.

Karena itu, Bulukumba perlu mempercepat pembangunan industri hilir. Beras tidak hanya dipanen, tetapi harus diolah, dikemas, dan dipasarkan dengan merek lokal yang kuat. Kelapa harus menghasilkan berbagai produk turunan bernilai tinggi. Rumput laut perlu diolah menjadi produk pangan, kosmetik, hingga farmasi. Begitu pula hasil perikanan, peternakan, dan pertanian lainnya harus semakin banyak diproses di Bulukumba agar manfaat ekonominya tetap berputar di daerah.

Syafruddin menegaskan bahwa penguatan ekonomi lokal bukan berarti menutup pintu bagi investor dari luar. Justru investasi sangat dibutuhkan untuk menghadirkan modal, teknologi, dan akses pasar yang lebih luas. Yang perlu dibangun adalah kemitraan yang sehat dan saling menguntungkan antara investor dan pengusaha lokal.

Selain itu, lahirnya lebih banyak pengusaha lokal harus menjadi prioritas. Dukungan pendidikan kewirausahaan, akses pembiayaan, pelatihan usaha, digitalisasi, dan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perbankan, perguruan tinggi, serta masyarakat menjadi kunci menciptakan pelaku ekonomi yang tangguh.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan ekonomi tidak hanya diukur dari besarnya investasi atau tingginya pertumbuhan ekonomi. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat Bulukumba menjadi pelaku utama ekonomi di daerahnya sendiri, menciptakan lapangan kerja, membangun usaha, memiliki merek, dan menikmati manfaat terbesar dari kekayaan yang dimiliki daerah.

Sebab ukuran kemajuan bukanlah seberapa banyak komoditas keluar dari Bulukumba, melainkan seberapa besar nilai tambah yang tetap tinggal di Bulukumba. Ketika masyarakat lokal menjadi produsen, pengusaha, mitra industri, dan pemilik usaha yang kuat, saat itulah Bulukumba benar-benar menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri dan mewujudkan kedaulatan ekonomi yang mandiri, maju, dan sejahtera.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *